Jumat, 02 Desember 2016

Ibrahim Kholil Majid FEMINISME




IDEOLOGI PATRIAKHI VS IDEOLOGI FEMINISME

Menurut Konsep Gender perempuan dan laki-laki bukan merupakan fenomena biologis, akan tetapi merupakan hasil kontruksi secara kultur yang bisa sewaktu-waktu berubah. Pemikiran-pemikiran bahwa secara takdir perempuan itu lebih condong kepada urusan rumah tangga, mengasuh anak, dirumah saja tidak usah bekerja itu merupakan sebuah kultur-kultur yang bisa jadi akan mempengaruhi sebuah ilmu pengetahuan. Begitu dengan Laki-laki yang lebih condong dari segi ekonomi sebagai pekerja, dari segi politik di identikkan sebagai pemimpi. Pemikiran-pemikiran pada hal-hal diatas merupakan akibat dari sebuah pemikran yang berbasis patriarki yang dimana sistem otoritas yang bedasarkan kekuasaan laki-laki baik dalam hal sosial, politik maupun ekonomi. Peran wanita dalam kehidupan bermasyarakat dalam konsumen pembangunan bukan hanya sebagai proses pembangunan, tapi juga sebagai fondasi yang berstruktur kuat. Sungguh ironis bila melihat sebuah kenyataan, apalagi jka melihat peran wanita tradisional yang selalu dianggap sebagai “cadangan”.
Sistem-sistem patriarki ini merupkan yang sudah tumbuh dalam masyarakat, keluarga, lembaga-lembaga, dalam mengatur hal kewarisan  dan lain-lain. Dimana yang endingnya nanti adalah kehidupan daripada orang perempuan seakan-akan begantung pada laki-laki . Misalkan saja dalam hal Keluarga realita yang ada adalah perempuan dirumah tidak boleh keluar oleh suami, tidak boleh bekerja-kerja berat, dirumah saja yang mencarikan nafkah suami saja. Dalam hal ini  jelas bahwasannya perempuan seakan-akan termajinalkan oleh budaya-budaya yang sudah tumbuh dan berkembang lama dalam masyarakat. Menurut saya budaya-budaya lama tersebut relefansinnya adalah pada zaman dahulu dan berbeda ketika di aktualisasikan pada zaman sekarang, dan jika melihat zaman sekarang banyak sekali perempuan-perempuan yang justru sebagai penopang keluargannya misalkan saja bekerja sebgai TKI di kuar negri sana. Hal tersebut menunjukkan bahwasannya tidak hanya permpuan saja yang bisa bekerja menopang keluarga justru banyak sekali para TKI di indonesia sendiri dari perempuan. Karena mungkin dalam keluarga suami tidak bisa bertanggung jawab dalam hal menafkahi istri maupun anak sehingga jiwa perempuan ternyata juga bisa menunjukkan bahwasannya ternyata sangat memungkinkan sebgai penopang keluarga.
Dalam hal berpolitik sosok pemimpin dalam kontruksi budaya selalu identik dengan dimana sosok laki-laki yang menjadi garda terdepan untuk dijadikan sebagai pemimpin. Padahal tidak menutup kemungkinan bahwasannya seorang perempuan menjadi seorang pemimpin. Karena kontruksi budaya di indonesia ini secara kultur sudah dilakukan sudah begitu lama sehingga pemikiran-pemikiran klasik selalu muncul dalam pemikiran orang yang dimana pemimpin identik kepada laki-laki.
Menurut J.I. Brown bahwa pemimpin tidak dapat dipisahkan dengan kelompok, tetapi dapat dipandang sebagai suatu posisi yang memiliki potensi yang tinggi di bidangnya. Karakter seorang pemimpin mampu mengubah, mempengaruhi dan mengarahkan orang lain dalam mencapai satu tujuan yang memiliki visi dan misi yang kuat.
Pernyataan tersebut tentu saja dapat diartikan bahwa peranan wanita dalam kepemimpinan sebenarnya bukanlah suatu hal yang aneh lagi. Dalam hal kesetaraan gender dapat diartikan bahwa, dengan adanya kesamaan kondisi bagi laki-laki maupun perempuan dalam memperoleh kesempatan serta hak-haknya sebagai manusia, agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik, hukum, ekonomi, sosial budaya, pendidikan dan pertahanan dan keamanan nasional serta kesamaan dalam menikmati hasil pembangunan.
Bisa Terlakannya peran wanita dalam kesempatan memegang peranan sebagai kepemimpinan membawa dampak yang mengarah lebih baik bahwa permasalahan akan kesetaraan gender ditandai dengan tidak adanya diskriminasi antara perempuan dan laki-laki. Dengan demikian, antara perempuan dan laki-laki memiliki akses yang sama dalam mencapai sebuah peran kepemimpinan. Kini perempuan mampu memberikan suara dalam berpartisipasi dan kontrol atas pembangunan negara yang lebih baik. Tentu hal ini adalah sebuah kebijakan dalam memperoleh manfaat kesetaraan serta adil dari pembangunan.
Misalkan jika kita melihat sosok mentri sosial, Khofifah beliau merupakn salah satu sosok perempuan yang sangat hebat, memiliki intelektualitas yang diatas rata-rata. di Indonesia beliau bahkan membuat kebijakan-kebijakan untuk perubahan-perubahan secara sosial di Indonesia ini. Salah satu kebijakannya yaitu menutup lokalisasi misalkan lokalisasi yang terbesar di Indonesia bahkan di Asia Tenggara. Hal tersebut menunjukkan bahwasannya tidak hanyal laki-laki yang bisa menjadi sosok pemimpin perempuanpun ternyata juga sangat mumpuni, memiliki ketegasan, memiliki kemampuan. Dengan kebijakan tersebut juga menunjukkan bahwasannya beliau memang-memang sosok pemimpin perempuan yang memiliki keberanian, karena pada sebelum-sebelumnya kebijakan menutup lokalisasi terbesar di asia tenggara terseubut belum mampu direalisasikan padahal mentri yang sebelumnyapun laki-laki.
Kenapa saya memilih contoh beliau karena bisa saja hal tersebut dijadikan sebagai gambaran, sebagai motivasi,ternyta tidak hanya laki-laki yang bisa menjadi sosok pemimpin atau leader. Perempuanpun ternyata mampu memberikan perubahan-perubahan di Negri kita ini. Karena sering kali perempuan di subordinasikan oleh faktor-faktor yang dikontruksikan secara sosial. Banyak anggapan dan kepercayaan yang menjadikan kedudukan perempuan dipandang dari segi biologis yaitu sex bukan dari segi kemampuan, kesempata, dan aspek-aspek manusiawi secara umumnya.