IDEOLOGI PATRIAKHI VS IDEOLOGI FEMINISME
Menurut Konsep Gender perempuan dan
laki-laki bukan merupakan fenomena biologis, akan tetapi merupakan hasil
kontruksi secara kultur yang bisa sewaktu-waktu berubah. Pemikiran-pemikiran
bahwa secara takdir perempuan itu lebih condong kepada urusan rumah tangga,
mengasuh anak, dirumah saja tidak usah bekerja itu merupakan sebuah
kultur-kultur yang bisa jadi akan mempengaruhi sebuah ilmu pengetahuan. Begitu
dengan Laki-laki yang lebih condong dari segi ekonomi sebagai pekerja, dari
segi politik di identikkan sebagai pemimpi. Pemikiran-pemikiran pada hal-hal
diatas merupakan akibat dari sebuah pemikran yang berbasis patriarki yang
dimana sistem otoritas yang bedasarkan kekuasaan laki-laki baik dalam hal
sosial, politik maupun ekonomi. Peran wanita dalam kehidupan bermasyarakat
dalam konsumen pembangunan bukan hanya sebagai proses pembangunan, tapi juga
sebagai fondasi yang berstruktur kuat. Sungguh ironis bila melihat sebuah
kenyataan, apalagi jka melihat peran wanita tradisional yang selalu dianggap
sebagai “cadangan”.
Sistem-sistem patriarki ini merupkan yang
sudah tumbuh dalam masyarakat, keluarga, lembaga-lembaga, dalam mengatur hal
kewarisan dan lain-lain. Dimana yang
endingnya nanti adalah kehidupan daripada orang perempuan seakan-akan begantung
pada laki-laki . Misalkan saja dalam hal Keluarga realita yang ada adalah
perempuan dirumah tidak boleh keluar oleh suami, tidak boleh bekerja-kerja
berat, dirumah saja yang mencarikan nafkah suami saja. Dalam hal ini jelas bahwasannya perempuan seakan-akan
termajinalkan oleh budaya-budaya yang sudah tumbuh dan berkembang lama dalam
masyarakat. Menurut saya budaya-budaya lama tersebut relefansinnya adalah pada
zaman dahulu dan berbeda ketika di aktualisasikan pada zaman sekarang, dan jika
melihat zaman sekarang banyak sekali perempuan-perempuan yang justru sebagai
penopang keluargannya misalkan saja bekerja sebgai TKI di kuar negri sana. Hal
tersebut menunjukkan bahwasannya tidak hanya permpuan saja yang bisa bekerja menopang
keluarga justru banyak sekali para TKI di indonesia sendiri dari perempuan.
Karena mungkin dalam keluarga suami tidak bisa bertanggung jawab dalam hal
menafkahi istri maupun anak sehingga jiwa perempuan ternyata juga bisa
menunjukkan bahwasannya ternyata sangat memungkinkan sebgai penopang keluarga.
Dalam hal berpolitik sosok pemimpin dalam
kontruksi budaya selalu identik dengan dimana sosok laki-laki yang menjadi
garda terdepan untuk dijadikan sebagai pemimpin. Padahal tidak menutup
kemungkinan bahwasannya seorang perempuan menjadi seorang pemimpin. Karena
kontruksi budaya di indonesia ini secara kultur sudah dilakukan sudah begitu
lama sehingga pemikiran-pemikiran klasik selalu muncul dalam pemikiran orang
yang dimana pemimpin identik kepada laki-laki.
Menurut J.I. Brown bahwa pemimpin tidak dapat
dipisahkan dengan kelompok, tetapi dapat dipandang sebagai suatu posisi yang
memiliki potensi yang tinggi di bidangnya. Karakter seorang pemimpin mampu
mengubah, mempengaruhi dan mengarahkan orang lain dalam mencapai satu tujuan
yang memiliki visi dan misi yang kuat.
Pernyataan tersebut tentu saja dapat
diartikan bahwa peranan wanita dalam kepemimpinan sebenarnya bukanlah suatu hal
yang aneh lagi. Dalam hal kesetaraan gender dapat diartikan bahwa, dengan
adanya kesamaan kondisi bagi laki-laki maupun perempuan dalam memperoleh
kesempatan serta hak-haknya sebagai manusia, agar mampu berperan dan
berpartisipasi dalam kegiatan politik, hukum, ekonomi, sosial budaya,
pendidikan dan pertahanan dan keamanan nasional serta kesamaan dalam menikmati
hasil pembangunan.
Bisa Terlakannya peran wanita dalam
kesempatan memegang peranan sebagai kepemimpinan membawa dampak yang mengarah
lebih baik bahwa permasalahan akan kesetaraan gender ditandai dengan tidak
adanya diskriminasi antara perempuan dan laki-laki. Dengan demikian, antara
perempuan dan laki-laki memiliki akses yang sama dalam mencapai sebuah peran
kepemimpinan. Kini perempuan mampu memberikan suara dalam berpartisipasi dan
kontrol atas pembangunan negara yang lebih baik. Tentu hal ini adalah sebuah
kebijakan dalam memperoleh manfaat kesetaraan serta adil dari pembangunan.
Misalkan jika kita melihat sosok mentri
sosial, Khofifah beliau merupakn salah satu sosok perempuan yang sangat hebat,
memiliki intelektualitas yang diatas rata-rata. di Indonesia beliau bahkan
membuat kebijakan-kebijakan untuk perubahan-perubahan secara sosial di
Indonesia ini. Salah satu kebijakannya yaitu menutup lokalisasi misalkan
lokalisasi yang terbesar di Indonesia bahkan di Asia Tenggara. Hal tersebut
menunjukkan bahwasannya tidak hanyal laki-laki yang bisa menjadi sosok pemimpin
perempuanpun ternyata juga sangat mumpuni, memiliki ketegasan, memiliki
kemampuan. Dengan kebijakan tersebut juga menunjukkan bahwasannya beliau
memang-memang sosok pemimpin perempuan yang memiliki keberanian, karena pada
sebelum-sebelumnya kebijakan menutup lokalisasi terbesar di asia tenggara
terseubut belum mampu direalisasikan padahal mentri yang sebelumnyapun
laki-laki.
Kenapa saya memilih contoh beliau karena
bisa saja hal tersebut dijadikan sebagai gambaran, sebagai motivasi,ternyta
tidak hanya laki-laki yang bisa menjadi sosok pemimpin atau leader.
Perempuanpun ternyata mampu memberikan perubahan-perubahan di Negri kita ini. Karena
sering kali perempuan di subordinasikan oleh faktor-faktor yang dikontruksikan
secara sosial. Banyak anggapan dan kepercayaan yang menjadikan kedudukan
perempuan dipandang dari segi biologis yaitu sex bukan dari segi kemampuan,
kesempata, dan aspek-aspek manusiawi secara umumnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar