ARTIKEL TENTNG LARANGAN MENCONTEK BUKAN BUDAYA TAPI DEGRADASI
INTELEKTUAL
Oleh: Ibrahim Kholil Majid
HK 5 B
Mencontek adalah salah satu perbuatan yang tiadak asing mulai dari
kalangan Sekolah Dasar, SMP, SMA, maupun ketika sudah menjadi mahasiswa. Padahal menconek memiliki dampak yangburuk bagi
pelajar. Bisa saja dampak yang buruk itu ada yang bisa langsung dirasakan ada
juga yang akibatnya juga jangka panjang. Mencontek memiliki dampak yang huruk
diantaranya yang pertama, malas belajar terkadang kurang memiliki
motivasi yang tinggi. Justru mereka semakin malas belaj ketika apa lagi didalam
kelas teman sebayanya tidak ada yang menegur dan justru memberiknnya jawaban
dengan mudah. Meskipun nantinnya bisa mendapatkan nilai yang bagus tentunnya
dari persoalan materi tentu tidak menguasai ilmu yang seharusnya mereka
ketahui.
Kedua, akan mudah
biasa berbohong karena untuk merealisasika pencontekannya tersebut tentunnya
secara otomatis dengan cara pembohongan. Bisa sja nanti karena kebiasaanya
berbohong akan berdampak tidak dipercaya omongannya oleh orang lain.
Ketiga, menghalalkan
segala cara dengan cara ini maka mereka tidak mau tahu dari memperoleh
jawabannya tersebut kareana dengan segala cara baik secara halus maupun kasar
yang terpenting sukses mendapatkan contekan.
Keempat, tidak percaya
diri. Karena dengan mencontek sama saja orang meragukan kemampuannya sendiri.
Menjadi orang yang malas karena hal ini menjadi sebuah kebiasaanketika waktu
ujian. Menjadikan orang menjadi ketergantungan dengan orng lain.
Bedasarkan hasil wawancara dengan beberapa mahasiswa di IAIN
Tulungagung pertama, saya mewawancarai mengenai aturan larangan mencontek
dengan saudari illa dari jurusan hukum keluarga semester lima dia setuju dengan
adannya peraturan larangan mencontek karena dapat mengajarkan kita untuk jujur
dalam mengerjakan tapi larangan mencontek bagi sudai illa akan memberatkan saat
ada ujian dan ketika posisi tidak
belajar dan merasa kesulitan saat menjawab soal itu akan menimbulkan ingin
mencontek. Illa ini memag orangnya bertipe orang yang kurang percaya diri
dengan kemampuannya sendiri seperti halnya waktu malam memang belajar tapi,
wktu uijan berlangsung padhal sebenarnya dia tau jawabannya karena kurangnya keyakinan dan percaya diri untuk
menjawab dan yang pada akhirnya memutuskan membuka internet untuk mencari-cari
jawaban.
Untuk persiapan mencontek tidak persiapkan khusus hanya mencontek
ketika keadaan terdesak maka hanya
menggunakan hanphone untuk browsing.katanya,
Untuk, mengantisipsi mencontek
cukup menggunakan ketenangan dan
tidak panik-panik sekali agar pengawas tidak curiga. Kepada pengawas juga
sangat setuju kepada para dosen yang nenindak tegaspelaku pencontekan karena
pada dasarnya mencontek adalah cikal bakal korupsi seperti sebuah tulisan muda
nyontek, dewasa korupsi, tua masuk penjara. Selain itu juga ada dosen yang
mengeluarkan pelaku pencontek dan aku juga yang memberikan nilai C kepada
pelaku pencontekan setuju dengan sanksi
ini karena selain membuat lebih prcaya
diri juga meltih ke jujuran mahasiswa.
Untuk nilai dari hasil pencontekan tentu merasa tidak puas, karena
meskipun nilai bagus akan tetapi di dapat dari proses yang salah. Mulai di
wawancara saudari illa ini katanya, akan berusaha lebih baik dan jujur dalam
mengerjakan soal-soal ujian dan saya akan lebih percaya diri. katanya,
Wawancara yang kedua yaitu kepada
saudara Hasbi ash-Shidiqi jurusan perbankan syari’ah semester lima yang katanya
yaitu: Pada dasarnya dengan adannya aturan larangan mencontek setuju karena hal
itu akan bisa membuat profesionalitas peserta ujian dengan konsekuensi jika
melanggar ada sanksi tegas. Tapi, disisi lain karena sering kurang siap dalam
menghadapi ujian kadang juga melakukan pencontekandengan membuka hanphone atau
minta tolong suruh kerjakan teman yang tidak bisa.
Dia
memilih mencontek karena dalam keadaan sering kurang percaya diri dan
kurang siap biasannya. Lalu dengan cara membuka hanphone atau menyuruh teman
untuk mengerjakan menurut itu akan mempercepat penyelesaian soal ujian. Jadi
tidak mempersiapkan banyak-banyak cukup dengan hanphone ada, paketan internet
ada mencari jawaban cukup dengan browsing. Agar nantinnya tidak ketahuan
biasannya dia duduk di belakang dan kehalang-halangan dengan teman-teman didepan-depannya.
Perasaan ketika mencontek kadang
terlebih dahulu melakukan pencontekan tidak memikikan apa-apa yag penting
selesai. Tapi, jika di pikir-pikir dia juga merasa dosa dan meragukan
kemampuannya sendiri. Tapi juga kadang berat kalau memang-memang pertanyaannya
sulit akhirnya juga contek lagi. Katanya,
Kadang dia juga takut deg-degan
ketika ketahui dosennya tegas bener
ketika ada mengetahui ada yang mencontek.meskipun di sadari sebenanya pebuatan
tersebut juga demi kebaikan mahasiswannya sendiri.
Kalau dari nilai, memang tidak terlalu memikirkan, yang penting lulus nilai standart. Tapi disisi lain tidak
puas karena itu bukan murni hasil pemikirannya sendiri bukan hasil murni
sendiri .
Sebenarnya dia sudah memiliki
rencana untuk berhenti dengan cara menjawab soal dengan kemampuan sendiri
meskipun agak mengarang bebas, tapi juga sulit bagi dia karena ketika keadan
tidak bisa akhirnya jugsa mrencontekapa lagi kondisi di kelas banyak temannya
yang mencontek menjadi ikut terpengaruh. Katanya,
Mungkin untuk keadaan tidak mencontek waktu ada dosen yang
mengadakan ujian dengan cara lisan, mungkin itu salah satu cara yang
membut mau tidak mau harus ujian dengan
cara lisan.
Selanjutnya wawancara yang ke tiga
kepada dyas astya jurusan Pendidikan Guru Ibtidaiyah semester satu sebagaimana
berikut hasilnya. Astya kurang setuju dengan adannya praturan larngan mencontek
karena dia sendiri belum bisa percaya diri dengan hasil pekerjaannya sendiri
sehingga kurang siap dengan adannya larangan ini.
Dia memilih mencontek Karena biar
mudah mengerjakan soal dan lebih cepat selesai. Karena seperti halnya tadi kurang percaya diri dan belum siap dengan
materi yang kurang menguasai.
Dengan menggunakan cara Menulis
diatas kertas dengan dengan bolpoint yang tintannya sudah habis dan yang
nantinnya menghasilkan jejak tulisan. Apabila kena cahaya akan kelihatan
tulisaannya tersebut seperti itu yang biasa saya gunakan untuk mencontek.
Kadang jga menaruhkan kertas contekan dibawah lembar jawaban atau soal. Dan
mengeluarkan ketika suasana sudah aman dosen diam didepan.
Sebenarnya ketika mencontek perasaan
astya juga takut dan bingung, tapi mau tidak mau harus terlihat santai agar
tidak ketahuan kalau dia sedang mencontek.
Menurutnya memang benar sebnarnya
dosen mengur ataupun menindak tegas bagi pelanggar. Karena dosen juga
menunjukkan tanggung jawabnya sebagai pengawas ujian demi ketertiban dan
keprofesionalan mahasiswa dalam mengerjakan soal ujian.
Berbicara mengenai hasil nilai
tentunnya belum puas karena bukan pekerjaan sendiri. Hal tersebut terkadang
membuat dia berfikir nilai dari hasil mencontek meruapakan formalitas saja
bukan nilai yang membuat bangga dan
puas.
Memberhentikan kebiasaan mencontek
merupakan seatu hal yang sangat positif dan perlu ditanamkan di setiap
mahasiswa. Kalau rencana berhenti mencontek sebenarnya mempunyaitapi, ketika memiliki
wawasan yang ilmu yang luas dan ketika harus bersumpah atau berjanji tidak
mengulangi lagi baru berhenti mencontek. Ujarnya.
Berikutnya setelah membicarakan
sebuah larangan mencontek kali ini akan membahas mengenai orang yang patuh
terhadap aturan larangan mencontek. Bedasarkan hasil wawancara sebagaimana
berikut. Pertama saya mewawancarai yulia dari jurusan matematika semester
lima.kenapa dia tidak melakukan pencontekan? kaena dia akan mempersiapkan
materi ujian dengan matang misalkan besok ujian setelah pulang kuliah atau
malamya belajar dan saya yakin, jadi
apapun yang terjadi karena sudah usaha saya jadi percaya diri. Selain itu juga
dari pada mencontek ketahuan nantinnya, akan berimbas padanilai saya. Katanya,
Berbicara mengenai nilai terkadang
puas kadang juga tidak. Ketika sudah
belajar dan nantinnya nilainya baik maka berarti belajarnya bisa dikatakan
tidak sia-sia dan berhasil. Tapi, jika sebaliknya ketika sudah belajar tapi
mendapatkan nilai buruk tentu tidak puas dan dianggap belajarnya kurang
maksimal dan perlu ditingkatkan lagi.
Kalau ada dosen pengawas membiarkan
mahasiswa mencontek Kurang setuju karena selain nantinnya kalau dibiarkan
terkadang juga ramai. Maka hal tersebut juga akan mengganggu konsentrasi
teman-teman yang lain maka hal tersebut setidaknya dipertegas. Katanya,
Menurut saya Sanksi yang diberikan 3
kali teguran kalau tetap melakukan pencontekan bisa dikeluarkan dari ruangan
dan dicoret dari daftar peserta ujian dan hasilnya juga di coret. Itu sedikit
pendapat yang dipaparkan yulia.
Lalu agar mahasiswa tidak terbiasa
mencontek yaitu dengan yang pertama, mempesiapkan mata kuliah dengan matang.
Kedua, dosen memberikan materi atau kisi-kisi agar nantinnya bisa lebih fokus
belajarnya. Ketiga, mungkin bisa semua ujian lisan. Katanya,
Agar efektif dalam menjalankan ujian mungkin bangku bisa dibuat
leter U agar semua nanti kelihatan siapa yang mencontek. Atau diberikan tugas
take home, atau open book tapi, soalnya agak berat. Katanya
Mungkin untuk fasilitas agar
mahasiswa tidak lagi melakukan pencontekan dengan cara ujian lisan dipanggil
satu atau dua orang. Katanya
Narasumbwer selanjutnya yang kedua
yaitu agus hadi prabowo dari jurusan Pendidikan Bahasa Arab semester lima.
Bagaimana pendapat-pendaptnya atau masukannya sebagaimana berikut ini: alasan
kenapa saudara prabowo ini menurutnya tidak mencontek karena mengutamakan yaitu
niat, keyakinan dan percaya diri atas potensi yang saya miliki untuk menawab
soal-soal ujian. Selain itu juga bisa belajar dengan cara diskusi sebelum ujian
bisannya lebih efektif .
Tentu setelah ujian yang
ditunggu-tunggu adalah nilai “Alhamdulillah sangat puas sekali saya dengan
nilai ujian. Meskipun tidak terlalu bagus tapi itu hasil jerih payah sendiri,
daripada bagus tapi diraih dengan cara yang salah.”ujarnya,
Terhadap dosen yang membiarkan ketika ada mahasiswa yang mencontek
saya biasa-biasa saja, santai saja selama
tidak mengganggu dirinya. Kecuali ribut sendiri mencari jawaban dengan
mengganggu temain lain, lebih baik itu diindak tegas.
Jika ada yang melnggar aturan seyogyannya juga ada sebuah panisme
atau sanki yang diberikan ketika ada yang melanggar harus tegas misalkan
mahasiswa yng ketahuan mecontek diberi peringaatan jika 1,2,3 kali di peringati
tetap saja mencontek suruh keluar dan tidak mendapatkan nilai. Pokok sifatnya
sanksi yang mendidik.
Dosen membuat soal ujian sesuai dengan materi yang diberikan,
member kisi-kisi ujian. Memberikn sanksi seperti halnya diatas tadi. Saya kira
seperti itu. Katanya,
Mungkin kalau yang relevan saat ini yaitu setiap mahasiswa dilarang
membawa hanphone saat ujian berlangsung. Ujian dilaksanakan dengan cara open
book dengan soal yang sulit. Fasilitas yang mungkin bisa mencegah pencontekan
mungkin dosen mengadakan ujian dengan cara lisan.
Narasumber yang terakhir yaitu Hadi dari jurusan hukum keluarga
semester tiga. Sebagaimana hasil wawncarannya berikut ini, dia tidak mencontek
karena sebelum ujian menarget harus menguasai materi yang diujikan. Rasa
percaya diri “saya pasti bisa” itu salah satu yang membuat termotivasi dirinya sehingga dengan yakin mengerjakan soal ujian.
Masalah hasil atau nilai tentu puas karena hasil dari kemampuan
sendiri. Mungkin kalau ada nilai yang mungkin kurang bagus saya kira mungkin
belajar kurang sungguh-sunggu dan perlu
ditingkatkan lagi.
Kalau ada dosen yang membiarkan ketika ada pencontekan dia biasa
saja, karena mungkin dosen toleran. Tapi, kalau akan berakibat menggangu yang
alain tentunnya perlu dipertegas ataupun dikenakan sanksi yang diberikan
mungkin kalau ketahuan diperingati satu,dua kali ketiga kali disuruh keluar
tidak mengikuti ujian.
Agar mahasiswa tidak mencontek mungkin bisa ujiannya dengan open
book atau take home dengan syarat selain nanti ada referensinnya juga disuruh
menganalisa jawabannya tersebut.
Aturan bisa efektik menurut dia dengan cara ujian bergilir dibagi
menjadi beberapa gelombang misalkan mahasiswannya 30 di bagi menjadi dua atau
tiga gelombang.
Fasilitas menurutnya dosen
benar-benar memfasilitasi mahasiswa ketika di kelas dengan benar-benar memperhatikan
mana yang bisa mana yang sekirannya belum bisa. Selain itu mahasiswa ketika
kuliah sudah dikasih tau nanti konsekuensinnya ketika mencontek. Agar para
mahasiswa benar-benar memperhatikan hal tersebut.
Dari
seluruh pengamatan tersebut dibagi menjadi dua point yaitu yang pertama dari
pihak yang melanggar aturan mencontek, menurut saya secara garis besar
mahasiswa kurangnya kepercayaan diri menjadi salah satu masalah yang urgen yang
membuat mahasiswa tidak lagi mengutamakan sebauh kejujuran tapi, lebih
mengutamakan keselesaian dalam mengerjakan soal ujian dengan cara menghalalkan
segala cara. Meskipun mereka sebenarnya tau akan sebuah larangan mencontek
tapi, pada pada realitannya kesadaran yang masih kurang membuat hal tersebut
diabaikan saja.
Point
yang kedua yaitu kepada mahasiswa yang patuh terhadap peraturan larangan
mencontek saya amati memang mereka sudah faham benar akan sebuah aturan
tersebut. Mereka menganggap nilai bukanlah nomer satu yang penting niat, jerih
payah dalam mengerjakan,ilmu yang diserap bisa erguna bagi diri sendiri maupun
orang lain,dan kepercayaan diri, “pasti
bisa” dengan kemampuannya sendiri menjadi sebuah motivasi tersendiri. Demikian
point yang kedua ini mungkin yang perlu dicontoh bagi para pencontek untuk
membangun motivasi agar lebih baik agar bisa membangun mensej berfikir pada
dasarnya ilmu yang bergunalah yang menjadi tolak ukur keberhasilan seorang
terpelajar bukanlah nilai. Saran ini khususnya ditujukan kepada penulis sendiri
dan pada umumnya kepada seluruh pembaca.
“DARI SAYA
MUNGKIN BANYAK KEKURANGAN DAN KESALAHANNYA, SAYA MOHON MAAF YANG
SEBESAR-BESARNYAMOHON MASUKAN DAN SARAN DARI PEMBACA AGAR LEBIH BAIK LAGI DALAM SEGI PENULISAN”
“Wallahul Muwaffiq Ilaa Aqwamith Tharieq”
Wassalamu’alaikum wr.wb
Tidak ada komentar:
Posting Komentar